- Wahyu Pertama di Gua Hira: Titik Awal Risalah
- Dakwah Sembunyi-Sembunyi: Tiga Tahun Pertama
- Dakwah Terang-Terangan dan Tekanan yang Meningkat
- Pemboikotan Bani Hasyim dan Tahun Kesedihan
- Isra Mi'raj: Hiburan di Tengah Duka
- Baiat Aqabah: Cikal Bakal Hijrah
- Hijrah ke Madinah: Awal Peradaban Baru
- Sosok-Sosok di Balik Kesuksesan Hijrah
- Mengapa Peristiwa Hijrah Dijadikan Awal Kalender Islam
- Mengapa Sejarah Ini Penting Dipahami Sebelum Berangkat Umroh
- Bekal Ilmu, Bekal Ruhani
Perjalanan dakwah Nabi Muhammad ﷺ dimulai di Kota Makkah ketika beliau menerima wahyu pertama di Gua Hira. Dari sinilah risalah Islam mulai disampaikan, pertama kepada orang-orang terdekat, kemudian kepada masyarakat Makkah secara lebih luas. Selama kurang lebih 13 tahun berdakwah di Makkah, Rasulullah ﷺ menghadapi berbagai bentuk penolakan, tekanan, dan ujian bersama para sahabat. Hingga akhirnya, atas perintah Allah SWT, beliau ﷺ berhijrah ke Madinah dan memulai fase baru dalam perjalanan dakwah Islam. Peristiwa hijrah inilah yang menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah perkembangan umat Islam.
Memahami sejarah dakwah Nabi Muhammad ﷺ bukan sekadar menambah wawasan. Bagi jamaah yang akan berdiri di tempat yang sama, ilmu ini adalah bekal supaya setiap langkah tawaf, setiap tatapan ke arah bukit Shafa dan Marwah, punya makna yang utuh.
Artikel ini merunut perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ secara kronologis — dari fase dakwah sembunyi-sembunyi di Makkah, tekanan dan pemboikotan yang dihadapi, hingga peristiwa hijrah yang menandai babak baru risalah Islam.
Wahyu Pertama di Gua Hira: Titik Awal Risalah
Dakwah Nabi Muhammad ﷺ dimulai jauh sebelum kata-kata pertama diucapkan kepada khalayak. Semuanya berawal dari kebiasaan beliau berkhalwat, menyendiri di Gua Hira, sebuah gua kecil di puncak Jabal Nur yang jaraknya sekitar enam kilometer dari pusat kota Makkah.
Pada usia 40 tahun, di bulan Ramadhan, Malaikat Jibril datang membawa wahyu pertama: perintah "Iqra" atau "bacalah", yang termaktub dalam Surat Al-Alaq ayat 1-5. Peristiwa ini dikenal sebagai Nuzulul Qur'an, titik di mana Muhammad bin Abdullah resmi diangkat menjadi Rasul terakhir.
Setelah peristiwa itu, turun wahyu kedua yang memerintahkan beliau untuk mulai berdakwah, yaitu Surat Al-Muddatstsir ayat 1-7. Sejak saat itu, dimulailah babak baru yang akan mengubah wajah Jazirah Arab, bahkan dunia.
Bagi jamaah yang nanti berkesempatan menengok kaki Jabal Nur, mengetahui latar peristiwa ini membuat pemandangan bukit berbatu itu terasa berbeda. Bukan sekadar bukit gersang, tapi saksi bisu turunnya wahyu yang mengubah sejarah.
Dakwah Sembunyi-Sembunyi: Tiga Tahun Pertama
Tiga tahun pertama, dakwah dilakukan secara diam-diam. Nabi Muhammad ﷺ hanya mengajak orang-orang terdekat: istri beliau Khadijah binti Khuwailid, sepupu beliau Ali bin Abi Thalib, sahabat karib Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan anak angkat beliau Zaid bin Haritsah. Mereka berempat menjadi kelompok pertama yang memeluk Islam.
Dari Abu Bakar, dakwah menyebar ke lingkaran pergaulannya yang luas dan dipercaya banyak orang Quraisy. Lewat tangannya, tokoh-tokoh seperti Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah masuk Islam. Mereka kelak dikenal sebagai golongan As-Sabiqun Al-Awwalun, orang-orang yang lebih dulu beriman.
Pertemuan-pertemuan dakwah pada masa ini berlangsung di rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam, yang letaknya dekat Bukit Shafa. Rumah ini menjadi semacam markas pertama pembinaan akidah, tempat para sahabat belajar Al-Qur'an dan menguatkan keimanan jauh dari pengawasan kaum Quraisy.
Dakwah Terang-Terangan dan Tekanan yang Meningkat
Setelah turun perintah dalam Surat Al-Hijr ayat 94 untuk menyampaikan dakwah secara terbuka, Nabi Muhammad ﷺ mulai mengajak kaumnya secara terang-terangan. Beliau naik ke atas Bukit Shafa dan menyerukan peringatan kepada seluruh suku Quraisy.
Respons yang datang jauh dari ramah. Paman beliau sendiri, Abu Lahab, menjadi salah satu penentang paling keras. Para pembesar Quraisy merasa terancam karena dakwah tauhid ini menyerang langsung fondasi ekonomi dan sosial mereka yang bergantung pada penyembahan berhala di sekitar Ka'bah.
Tekanan berubah menjadi penyiksaan fisik terhadap para pengikut yang lemah secara sosial, seperti Bilal bin Rabah, Ammar bin Yasir, dan keluarganya. Sumayyah binti Khayyat, ibu dari Ammar, menjadi syahidah pertama dalam Islam akibat penyiksaan yang diterimanya.
Sementara itu, Nabi Muhammad ﷺ sendiri dilindungi oleh pamannya, Abu Thalib, dan kedudukan sosial beliau di suku Bani Hasyim. Perlindungan inilah yang membuat kaum Quraisy tidak berani membunuh beliau secara langsung, meski berbagai cara intimidasi terus dilancarkan.
Pemboikotan Bani Hasyim dan Tahun Kesedihan
Ketika berbagai cara gagal menghentikan dakwah, kaum Quraisy mengambil langkah ekstrem: memboikot total Bani Hasyim dan Bani Muththalib. Kesepakatan ini ditulis dan digantung di dinding Ka'bah, berisi larangan berdagang, menikah, atau berinteraksi sosial apa pun dengan kedua marga tersebut.
Pemboikotan ini berlangsung sekitar tiga tahun. Keluarga Nabi ﷺ terpaksa mengungsi ke sebuah lembah bernama Syi'ib Abi Thalib, hidup dalam kelaparan dan keterbatasan yang parah.
Boikot ini berakhir setelah sejumlah tokoh Quraisy yang masih memiliki hati nurani mendesak pembatalannya. Namun tak lama setelah itu, dua pelindung terpenting Nabi Muhammad ﷺ wafat berturut-turut: Khadijah, istri tercinta yang selalu menguatkan beliau, dan Abu Thalib, paman yang selama ini menjadi tameng sosial-politik. Tahun ini dikenal dalam sirah sebagai Aamul Huzni, tahun kesedihan.
Isra Mi'raj: Hiburan di Tengah Duka
Di tengah kepedihan itu, Allah memberikan peristiwa istimewa: Isra Mi'raj. Nabi Muhammad ﷺ diperjalankan dalam satu malam dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem, kemudian naik ke langit hingga Sidratul Muntaha, menerima perintah salat lima waktu secara langsung dari Allah.
Peristiwa ini bukan sekadar mukjizat yang menguatkan hati Nabi ﷺ, tetapi juga menjadi ujian keimanan bagi para pengikutnya. Abu Bakar, yang langsung membenarkan cerita ini tanpa keraguan sedikit pun, mendapat gelar Ash-Shiddiq, yang berarti "yang membenarkan".
Bagi jamaah yang beribadah di Masjidil Haram, mengetahui bahwa perjalanan agung ini bermula persis dari titik yang sama dengan tempat mereka berdiri, memberi lapisan makna tersendiri saat menengadahkan doa.
Baiat Aqabah: Cikal Bakal Hijrah
Setelah kehilangan dukungan di Makkah, Nabi Muhammad ﷺ mulai menawarkan dakwah kepada suku-suku dan rombongan haji yang datang dari luar kota, termasuk sempat mendatangi Thaif meski ditolak dan disakiti penduduknya.
Titik balik muncul ketika beliau bertemu sejumlah orang dari Yatsrib (nama Madinah sebelum hijrah) yang datang untuk berhaji. Mereka tertarik dengan ajaran Islam dan pulang membawa kabar ke kampung halaman. Setahun kemudian, jumlah mereka bertambah dan terjadilah Baiat Aqabah pertama, disusul Baiat Aqabah kedua yang diikuti sekitar 73 orang dari Yatsrib.
Dalam baiat kedua ini, penduduk Yatsrib berjanji akan melindungi Nabi Muhammad ﷺ layaknya melindungi keluarga mereka sendiri jika beliau bersedia hijrah ke kota mereka. Kesepakatan inilah yang membuka jalan bagi peristiwa besar berikutnya: hijrah.
Hijrah ke Madinah: Awal Peradaban Baru
Setelah mendapat izin Allah, Nabi Muhammad ﷺ memerintahkan para sahabat untuk berhijrah lebih dulu secara bertahap dan sembunyi-sembunyi menuju Yatsrib. Beliau sendiri tetap tinggal bersama Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib hingga saat yang tepat tiba.
Ketika kaum Quraisy menyusun rencana pembunuhan dengan melibatkan perwakilan dari setiap suku agar tanggung jawab darah tersebar, Ali bin Abi Thalib rela menggantikan posisi Nabi ﷺ di tempat tidur pada malam kepergian beliau. Nabi Muhammad ﷺ dan Abu Bakar kemudian bersembunyi di Gua Tsur selama tiga hari sebelum melanjutkan perjalanan menuju Yatsrib.
Perjalanan hijrah menempuh rute yang justru berlawanan arah dari Madinah terlebih dulu, sebagai strategi mengecoh para pengejar. Setibanya di kawasan Quba, di pinggiran Yatsrib, Nabi ﷺ singgah beberapa hari dan mendirikan Masjid Quba, masjid pertama dalam sejarah Islam.
Kedatangan beliau di Yatsrib disambut penuh sukacita oleh penduduknya, sebuah momen yang diabadikan lewat syair sambutan Thala'al Badru 'Alaina yang hingga kini masih dilantunkan umat Islam di berbagai belahan dunia. Sejak peristiwa ini, Yatsrib berganti nama menjadi Madinah An-Nabawiyah, kota Nabi, dan penanggalan hijriyah pun dimulai dari titik ini.
Di Madinah, dakwah memasuki babak yang sama sekali berbeda. Nabi Muhammad ﷺ tidak lagi hanya menyampaikan risalah, tapi mulai membangun sebuah masyarakat: mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, menyusun Piagam Madinah sebagai konstitusi hidup berdampingan antarkomunitas, dan meletakkan fondasi peradaban Islam yang akan terus berkembang setelahnya.
Sosok-Sosok di Balik Kesuksesan Hijrah
Hijrah bukan cerita satu orang. Ada nama-nama yang jasanya jarang disorot padahal perannya krusial. Abdullah bin Uraiqith, misalnya, seorang penunjuk jalan yang disewa Nabi Muhammad ﷺ dan Abu Bakar meski saat itu ia belum memeluk Islam — dipilih justru karena keahliannya menghafal jalur-jalur tersembunyi di padang pasir yang jarang dilalui.
Ada pula Asma binti Abu Bakar, yang dengan berani mengantarkan bekal makanan ke Gua Tsur meski nyawanya taruhannya jika ketahuan mata-mata Quraisy. Karena keterbatasan tali untuk mengikat bekal, ia merobek ikat pinggangnya menjadi dua bagian — satu untuk menggantung bekal, satu untuk dipakai sendiri. Dari sinilah ia mendapat julukan Dzatun Nithaqain, "pemilik dua ikat pinggang".
Sementara itu Abdullah bin Abu Bakar bertugas menyusup ke Makkah setiap malam untuk mengumpulkan kabar terbaru pergerakan kaum Quraisy, lalu melaporkannya kembali ke persembunyian. Amir bin Fuhairah, budak yang telah dimerdekakan, bertugas menghapus jejak kaki di pasir dengan menggembalakan kambing melewati jalur yang sama, sehingga pelacak Quraisy kebingungan membaca arah perjalanan.
Detail-detail kecil semacam ini menunjukkan bahwa hijrah adalah kerja kolektif yang penuh perhitungan, bukan pelarian yang dilakukan tergesa-gesa.
Mengapa Peristiwa Hijrah Dijadikan Awal Kalender Islam
Menariknya, penetapan tahun hijrah sebagai titik awal kalender Islam bukan ditetapkan pada masa Nabi Muhammad ﷺ, melainkan pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, sekitar 17 tahun setelah peristiwa hijrah itu sendiri. Saat itu Umar dihadapkan pada masalah administrasi: surat-surat resmi tidak punya penanggalan yang seragam sehingga menyulitkan pencatatan.
Setelah bermusyawarah dengan para sahabat, dipilihlah peristiwa hijrah sebagai patokan, bukan kelahiran Nabi ﷺ atau turunnya wahyu pertama. Pilihan ini punya makna mendalam: hijrah dianggap sebagai titik paling menentukan yang memisahkan antara fase dakwah individual dan fase terbentuknya sebuah masyarakat serta peradaban Islam yang utuh.
Bagi jamaah yang menjalankan ibadah umroh, memahami filosofi ini bisa jadi renungan tersendiri. Hijrah bukan hanya soal perpindahan tempat, tapi soal keberanian meninggalkan kenyamanan lama demi sesuatu yang lebih besar — sebuah makna yang relevan bahkan bagi siapa pun yang memutuskan berangkat ke Tanah Suci hari ini.
Mengapa Sejarah Ini Penting Dipahami Sebelum Berangkat Umroh
Ketika seorang jamaah tahu bahwa Jabal Nur adalah tempat wahyu pertama turun, bahwa Bukit Shafa pernah menjadi mimbar dakwah pertama yang terbuka, atau bahwa Gua Tsur menyimpan cerita tentang kepercayaan penuh kepada pertolongan Allah, ibadahnya tidak lagi sekadar rangkaian gerakan. Ia hadir dengan kesadaran penuh atas apa yang sedang ia jejaki.
Inilah yang membedakan pengalaman ibadah yang sekadar dijalani dengan yang benar-benar diresapi. Bekal ilmu sejarah dakwah bukan pelengkap, tapi bagian dari kesiapan ruhani sebelum menginjakkan kaki di Tanah Suci.
Bekal Ilmu, Bekal Ruhani
Bismillah, ibadah umroh bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan ruhani yang membutuhkan bekal ilmu. Di Rahmah Travel, kami percaya jamaah yang paham ibadahnya akan pulang membawa makna yang lebih dalam.
Itulah mengapa setiap jamaah kami didampingi pembimbing ibadah umroh bersertifikasi yang berpengalaman puluhan kali ke Tanah Suci — siap menjawab pertanyaan Anda kapan saja, dari niat di rumah hingga doa terakhir di Multazam. Lengkap dengan materi edukasi dari persiapan, manasik umroh, hingga panduan pasca-kepulangan agar keberkahannya terus terasa.
Bimbingan ibadah yang amanah dan nyaman bareng Rahmah Travel bikin umroh makin berkah.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berapa lama Nabi Muhammad ﷺ berdakwah di Makkah sebelum hijrah?
Nabi Muhammad ﷺ berdakwah di Makkah selama kurang lebih 13 tahun, terhitung sejak turunnya wahyu pertama di Gua Hira hingga peristiwa hijrah ke Madinah.
Siapa saja orang pertama yang masuk Islam?
Empat orang pertama yang memeluk Islam adalah Khadijah binti Khuwailid (istri Nabi ﷺ), Ali bin Abi Thalib (sepupu beliau), Abu Bakar Ash-Shiddiq (sahabat karib), dan Zaid bin Haritsah (anak angkat beliau).
Masih butuh arahan sebelum memilih paket?
Diskusikan rencana umroh Anda dengan tim Rahmah Travel. Kami bantu cek kebutuhan, jadwal, dokumen, dan pilihan paket yang paling sesuai.