Kenapa pundak laki laki terlihat saat umroh - Rahmah Travel
Umroh & Haji

Kenapa pundak laki laki harus kelihatan saat Umroh?

Kalau Anda pernah melihat foto atau video jamaah laki-laki bertawaf dengan salah satu pundak terbuka, lalu bertanya-tanya apakah itu memang harus, jawabannya: ya, tapi hanya pada momen tertentu. Praktik ini punya nama sendiri dalam fikih, yaitu idhtiba,

SALMAN AL FARIZ
Penulis dan FullStack Developer
Kenapa pundak laki laki harus kelihatan saat Umroh?
PPIU
Resmi Kemenag RI
IATA
Terdaftar & Terakreditasi
Umroh
Reguler dan Private
265
Pembaca Artikel

Kenapa pundakBanyak jamaah baru justru salah paham di titik ini. Ada yang mengira pundak kanan harus terbuka sepanjang masa ihram, dari berangkat dari hotel sampai selesai seluruh rangkaian umroh. Padahal aturannya jauh lebih spesifik daripada itu, dan justru di situlah letak keindahan sunnah ini — ada waktu, ada cara, dan ada makna di baliknya. laki-laki harus terlihat saat umroh? Pertanyaan ini sering muncul begitu jamaah melihat foto atau video jamaah lain bertawaf dengan salah satu pundak terbuka. Jawabannya: memang harus, tapi hanya pada momen tertentu. Praktik ini punya nama sendiri dalam fikih, yaitu idhtiba, dan bukan sekadar gaya berpakaian tanpa dasar.

Artikel ini akan menjelaskan dari mana asal praktik idhtiba, kapan waktu yang tepat melakukannya, bagaimana cara mengenakannya dengan benar, sampai kesalahan yang paling sering terjadi di lapangan. Supaya saat Anda berangkat nanti, gerakan membuka pundak itu bukan lagi sekadar ikut-ikutan jamaah di sebelah, melainkan ibadah yang dipahami betul maknanya.

Mengenal Idhtiba, Sunnah yang Sering Bikin Jamaah Bertanya

Idhtiba adalah cara memakai kain ihram dengan meletakkan bagian tengahnya di bawah ketiak kanan, lalu kedua ujungnya diselempangkan ke pundak kiri. Hasilnya, bahu dan lengan kanan jamaah laki-laki terlihat terbuka, sementara pundak kiri tetap tertutup kain.

Gerakan sederhana ini termasuk salah satu sunnah dalam tawaf, khusus untuk jamaah laki-laki. Perempuan tidak disyariatkan melakukan idhtiba karena aturan menutup aurat bagi perempuan tetap berlaku penuh, termasuk saat tawaf.

Yang menarik, idhtiba bukan aturan yang dibuat-buat oleh ulama di kemudian hari. Praktik ini punya jejak langsung dari apa yang dilakukan Rasulullah SAW saat beliau sendiri melaksanakan tawaf.

Dasar dan Sejarah Praktik Idhtiba

Riwayat yang menjadi rujukan utama idhtiba datang dari Ya'la bin Umayyah, yang menyebutkan bahwa Nabi SAW biasa bertawaf dalam keadaan idhtiba. Riwayat lain menyebutkan Rasulullah SAW pernah bertawaf dengan mengenakan kain berwarna hijau sambil membuka pundak kanannya.

Para ulama menjelaskan idhtiba bukan sekadar soal kenyamanan berpakaian di cuaca panas Makkah. Gerakan membuka pundak dan lengan kanan ini dipahami sebagai simbol kesiapan dan kesungguhan seorang hamba saat menghadap Allah dalam ibadah tawaf. Ada semangat "siap bergerak" yang ditunjukkan lewat postur tubuh, mirip seseorang yang bersiap bekerja keras, bukan sekadar berjalan santai mengelilingi Ka'bah.

Idhtiba juga sering disebut berdampingan dengan sunnah lain bernama ramal, yaitu berjalan agak cepat dengan langkah pendek pada tiga putaran pertama tawaf qudum. Dua sunnah ini muncul dari peristiwa yang sama: saat kaum muslimin pertama kali tawaf setelah hijrah, mereka ingin menunjukkan kepada orang-orang musyrik Makkah bahwa tubuh mereka tetap kuat meski baru saja melalui masa sulit di Madinah.

Kapan Idhtiba Dilakukan, dan Kapan Harus Ditutup Kembali

Ini bagian yang paling sering bikin jamaah bingung. Idhtiba hanya berlaku selama proses tawaf berlangsung, bukan sepanjang waktu ihram.

Urutannya kurang lebih seperti ini:

  • Sebelum mulai tawaf, jamaah laki-laki menyelempangkan kain ihram sehingga pundak kanan terbuka.

  • Posisi ini dipertahankan selama tujuh putaran tawaf mengelilingi Ka'bah.

  • Begitu tawaf selesai, jamaah kembali menutup kedua pundaknya seperti semula, sebelum melanjutkan ke rangkaian ibadah berikutnya seperti sa'i.

Di luar momen tawaf, misalnya saat duduk menunggu waktu salat, berjalan menuju bukit Shafa dan Marwah, atau beristirahat di penginapan, kedua pundak seharusnya tertutup seperti kondisi ihram pada umumnya. Jadi kalau Anda melihat jamaah yang membiarkan pundak kanannya terbuka saat sedang duduk santai di pelataran masjid, itu sebenarnya sudah keluar dari konteks sunnah yang dimaksud.

Cara Melakukan Idhtiba yang Benar Saat Tawaf

Praktiknya tidak rumit, tapi butuh sedikit latihan supaya kain tidak melorot di tengah putaran. Berikut langkah yang biasa diajarkan pembimbing:

  1. Ambil kain ihram bagian atas (rida'), letakkan bagian tengahnya di bawah ketiak kanan.

  2. Tarik kedua ujung kain ke arah pundak kiri, lalu ikat atau selipkan dengan rapi agar tidak mudah lepas.

  3. Pastikan bahu dan lengan kanan terbuka, sementara pundak kiri tetap tertutup sempurna.

  4. Mulai tawaf dari sejajar Hajar Aswad, dengan posisi Ka'bah selalu berada di sisi kiri tubuh.

  5. Pada tiga putaran pertama, jamaah laki-laki dianjurkan berjalan agak cepat dengan langkah pendek, sebelum kembali berjalan normal di empat putaran berikutnya.

  6. Setelah putaran ketujuh selesai dan mendekati Hajar Aswad, kain kembali dirapikan menutup kedua pundak sebelum menuju Maqam Ibrahim.

Satu hal yang perlu diperhatikan: karena tawaf dilakukan di tengah kerumunan ribuan hingga jutaan orang, kain yang longgar berisiko tersangkut atau tertarik jamaah lain. Mengencangkan ikatan sebelum mulai berjalan akan membuat ibadah lebih tenang, tidak terus-menerus sibuk merapikan kain.

Idhtiba dan Semangat di Balik Setiap Gerakan Tawaf

Kalau ditelusuri lebih dalam, idhtiba sebenarnya bukan aturan yang berdiri sendiri. Ia bagian dari rangkaian sunnah tawaf yang saling melengkapi, mulai dari cara memulai di Hajar Aswad, arah putaran, sampai bacaan-bacaan yang dianjurkan di antara setiap sudut Ka'bah.

Di sinilah pemahaman soal sejarah dan simbol-simbol di sekitar Ka'bah jadi terasa penting. Banyak jamaah tahu bentuk Ka'bah, tapi tidak tahu bahwa bangunan itu sedikit bergeser dari titik tengah Masjidil Haram, atau bahwa kain kiswah yang menyelimutinya diganti setiap tahun dengan proses yang penuh kehati-hatian, lengkap dengan puluhan ikatan dan lampu di bagian bawahnya. Jamaah juga jarang menyadari sistem lampu di atas pintu-pintu Masjidil Haram yang menandakan kapan area di dalam sudah penuh, sebuah detail kecil yang menunjukkan betapa rapinya pengaturan jutaan jamaah setiap harinya.

Saat penjelasan seperti ini disampaikan langsung di depan Ka'bah, bukan sekadar dibaca dari buku sebelum berangkat, rasanya berbeda. Jamaah tidak lagi hanya mengikuti gerakan, tapi benar-benar memahami kenapa gerakan itu dilakukan.

Kesalahpahaman yang Sering Terjadi soal Pundak Terbuka Saat Umroh

Ada beberapa miskonsepsi yang terus berulang dari satu rombongan jamaah ke rombongan berikutnya:

  • Mengira idhtiba berlaku sepanjang ihram. Padahal hanya berlaku selama proses tawaf, sebagaimana sudah dijelaskan di atas.

  • Membuka pundak kanan saat salat. Ini tidak dianjurkan. Begitu tawaf selesai, pundak kembali ditutup seperti biasa, termasuk saat melaksanakan salat sunnah di dekat Maqam Ibrahim.

  • Menganggap idhtiba wajib bagi semua laki-laki tanpa kecuali. Idhtiba termasuk sunnah, bukan rukun atau wajib. Jamaah yang karena kondisi tertentu, misalnya cuaca terlalu dingin atau alasan kesehatan, memilih tidak melakukannya, tawafnya tetap sah.

  • Menyamakan idhtiba dengan ramal. Keduanya memang sering dilakukan bersamaan pada tiga putaran pertama tawaf qudum, tapi idhtiba soal cara berpakaian, sedangkan ramal soal cara berjalan.

Memahami batasan-batasan ini penting supaya semangat menjalankan sunnah tidak berubah jadi kebiasaan yang justru menyimpang dari maksud aslinya.

Baca Juga
Artikel Terkait situs sejarah islam yang bisa dikunjungi saat umroh Artikel yang paling banyak dibaca "Kapan Musim Umroh Dibuka Lagi Setelah Haji? Jadwal Resmi 2026"
FAQ

Pertanyaan yang Sering Diajukan

1. Apakah idhtiba wajib dilakukan saat tawaf umroh?

Tidak. Idhtiba termasuk sunnah dalam tawaf, bukan rukun. Tawaf tetap sah meski jamaah tidak melakukannya, misalnya karena kondisi cuaca atau kesehatan tertentu.

Apakah pundak kanan harus tetap terbuka setelah tawaf selesai?

Tidak. Begitu tawaf selesai, jamaah laki-laki dianjurkan menutup kembali kedua pundaknya seperti kondisi ihram pada umumnya, termasuk sebelum melaksanakan salat atau melanjutkan ke sa'i.

Apakah idhtiba dilakukan di setiap tawaf, termasuk tawaf sunnah?

Idhtiba paling ditekankan pada tawaf qudum atau tawaf umroh yang diikuti dengan sa'i sesudahnya. Untuk tawaf-tawaf sunnah tambahan, banyak ulama menyatakan idhtiba tidak selalu dianjurkan, jadi sebaiknya jamaah menanyakan langsung kepada pembimbing di lapangan.

Konsultasi Langsung

Masih butuh arahan sebelum memilih paket?

Diskusikan rencana umroh Anda dengan tim Rahmah Travel. Kami bantu cek kebutuhan, jadwal, dokumen, dan pilihan paket yang paling sesuai.